ABDURRAHMAN ALFAJRI MOYANKAY'S السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Genderang Kalbu
Genderang Kalbu

Selasa, 21 Januari 2014

Dongeng untuk Putra tersayang MUHAMMAD AL FATIH RAHMAN




بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

"Semoga yang membuat dan menulis cerita ini selalu dalam lindungan ALLAH swt, dan kebahagiaan selalu menaungi hari - hari depannnya..."
"Cerita ini sangat menginspirasi dan harapan kami semoga kedepan anak - anak bangsa tumbuh menjadi pribadi yang sangat mencintai negerinya dan mampu mengharumkannya dengan ribuan dan jutaan prestasi didunia"

"اَمِين... اَمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن... "

Alkisah

Seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. 
Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah bersama-sama ayam kampung. 
Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. 
Sang ahli unggas itu terkejut.
“Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. 
Sungguh mengherankan bukankah itu adalahg burung garuda !” ujarnya kepada pemburu.
“Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari  ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.
“Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu.
Taklama kemudian, burung garuda itu ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.  “Betul, kan?” ujar si pemburu. “Dia bukan garuda lagi!”
Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi.
Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.
Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang Garuda itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan : “Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. 
Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah.
Terbanglah! Membubunglah! ” Garuda dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.




Menatap Angkasa









Hari ini…
Angin berhembus sangat bersahabat…
Dibawah rindang pepohonan duduk seorang pemuda…
Berlindung dari sengat panas surya…
Dengan pandangangan lurus jauh kedepan…
Tatapannya kosong…
Entah apa yang dipikirkannya…

Ditempat yang berbeda
Angin tak terlalu bersahabat…
Mendung gelap menghias langit…
Diatas padang rumput luas menghijau berjalan seorang gadis, 
dengan sorot mata tajam menatap jauh kedepan…
Butir – butir air mulai berjatuhan dan memberi kabar akan turunnya hujan…
Itu tak membuatnya beranjak mencari tempat berteduh…
Ia tetap berjalan dan tetap dengan sorot mata tajam menatap jauh kedepan…
Entah apa yang dipikirkannya…

Ditempat yang berbeda…
Seorang tua diantara deru bising knalpot dan debu jalanan pinggir kota…
Dengan langkah lesu dan dengan gerobak usang miliknya…
Butir – butir peluh memberitahu akan lelahnya perjalan hidup…
Dengan pandangan layu menatap jauh kedepan…
Entah apa yang dipikirkannya…

Ditempat yang berbeda…
Seorang ibu duduk tak jauh dari tungku api kayu bakar dapurnya….
Terlihat sibuk dengan sabar meniup api menjaganya agar tetap menyala…
Dengan sabar menunggu matang apa yang dimasaknya…
Dengan garis keriput yang menghias wajahnya…
Menatap jauh kedalam nyala api….
Entah apa yang dipikirkannya….

Ditempat yang berbeda…
Seorang anak kecil dengan riangnya….
Berlari, menari, dan menyanyi tanpa tahu apa yang harus dipikirkan…
Bahagia penuh dengan canda dan tawa terus saja menatap angkasa…

Menatap angkasa

Jumat, 10 Januari 2014

NOW



"Gemuruh halilintar, tusukan indah kilat senja menghujam kebumi... 
Mengoyak - ngoyak dahan - dahan gagah nan elok yang berdiri sombong...
Perlahan namun pasti dahan - dahan tumbang keindahan tak nampak lagi...
Gelap... 
Seketika bumi yang elok menjadi kusam penuh rumput layu...
Pintu tobat tertutup..."


Masa muda penuh dengan megah dunia menjadi cambuk akan sombongnya diri...
Penyesalan tiada guna... 
Ranumnya buah hanya sekali... 
Dinikmati atau busuk tanpa diolah dan diperhatikan...
Iman kita... 
Jangan disia - siakan... 
Hidup hanya sekali... 
Arif disisa umur hal biasa... 
Bijak diwaktu muda luar biasa... 

Sekarang atau nati memang selalu jadi bahan perdebatan... 
Menunda - nunda adalah awal dari kegagalan...

Rabu, 08 Januari 2014

Kita Adalah Keajaiban



Gelisahku kembali kepermukaan...
Kalbu yang kemarin tenang perlahan mengamuk...
Berkecamuk bagai riuh rendai rerumputan tersapu puting beliung...

Itulah harapanku... 
Rumput nan lembut...
selalu mudah berbaur, pecahkan masalah didepanku...

Hampir gagah perkasa kalbuku hendak menantang....
Bagai keras, kuatnya Ulin yang terpaksa hengkang karena tabrakan angin topan...
Sombong nan angkuh dan tak pernah mau belajar dari kelembuatan ilalang...

Kembali harap nan do'a tenangkan jiwa...
Kalbu perlahan tenang bak air mengalir indah walau tahu dan sadar dihadapan segala sesuatunya dapat menjadi gelombang tsunami...
Semua tetap sama... 

Kita adalah jawaban dari semua pertanyaan....
Kita yang lembut nan sabar...
Yang mau, rela berusaha namun tetap dijalan yang benar...
Yang tidak selalu dahaga akan indah dunia...
Yang sudi mengalah harapkan kemenangan hakiki...

Kita adalah kesejukan dari gersangnya rasa takut...
Kita adalah keajaiban