ABDURRAHMAN ALFAJRI MOYANKAY'S السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Genderang Kalbu
Genderang Kalbu

Sabtu, 28 Desember 2013

Al 'Ashr



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Allah Swt berfirman :


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” 
(QS. Al ‘Ashr).



Kehidupan sudah ada jalurnya dan sudah ada ketetapannya...

pernahkah kita berfikir. dari 5 waktu sholat?

Subuh...

Kita lahir... kedunia...
menghabiskan banyak watu hingga kita menjadi insan yang bertanggungjawab
penuh akan dosa kita dan amal2 kita...
masa kecil...
ya Subuh menggambarkan waktu dimana masa lahir kita...
dan masa kecil serta masa kanak2 kita sampai kita dewasa...

" Subuh - Dzuhur berjarak kurang lebih 7 - 7,5 Jam "

Dzuhur...

Panjang masa dari kelahiran menuju ke akhir baligh...
ya inilah masa dima kita mulai bertanggung jawab dan tampil dewasa...
berdiri tegak menghadapi setiap permasalahan dan berjuang penuh menuju kedewasaan...
dan dari masa ini sangat sedikit sekali kita mendapat tambahan waktu
untuk mulai mandiri dan menambah tanggung jawab kita yakni segera menikah...

" Dzuhur - Ashar berjarak kurang lebih 3 - 3,5 Jam "

Ashar...

Kita dimasa ini dituntut tanggung jawab tidak hanya untuk diri kita sendiri...
melainkan dengan istri / suami dan anak2 kita...
masa inipun akan kita rasa sangat singkat...
karena tak lama kemudian akan datang waktunya kita menjadi tua ( kakek / nenek )

" Ashar - Maghrib berjarak kurang lebih 3 Jam "

Maghrib...

Kita tanpa sadar sudah menjadi tua dan sudah dipanggil "kek" / "nek"...
dan lihatlah...
bertambah pendek lagi waktu kita menjelang waktu istirahat panjang kita

" Maghrib - isya berjarak kurang lebih 1 - 1,5 Jam "

Isya...

Inilah masa terakhir kita untuk sibuk didalam hiruk-pikuk dunia...
banyak/ umumnya kita pada malam hari beristirahat...
Inilah waktu dimana kita mati...


Berakhirkah.....????? 

Oh tentu saja tidak...
karena kita akan bangun lagi bukan...?
begitu juga perjalanan hidup kita ini...???
apa yang membuat kita sombong dan berani melanggar perintah Tuhan???
Berfikirlah Sahabat...
waktu kita sebentar...
apa lagi kita yang sudah berada di Ashar Dunia...


Dan sahabat 5 waktu dalam sholat harus kita jalankan demi kesempurnaan hidup kita...
karena secara tidak langsung...
5 waktu sholat bisa kita asumsikan 5 masa perjalan manusia menuju alam abadi akhirat...
Subuh ( alam Ruh )
Dzuhur ( alam Kandungan )
Ashar ( alam dunia )
Maghrib ( alam barzah )
Isya ( alam abadi - Akhirat )

bila kita lihat lagi tahapan masa perjalanan hidup kita sahabat...
lihat alam dunia ini berada di waktu Ashar...
dan Ashar kemaghrib sangatlah dekat hanya 3 jam saja...

Subhanallah sahabat...
maukah kita menukar waktu kita yang singkat didunia ini dengan akhirat???

Tak terbayangkan kebahagiaan apa saja yang disiapkan ALLAH Swt untuk hamba2nya yang shaleh dan shaleha... yang menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran

Akhir kata semoga kita termasuk giolongan orang - orang yang beruntung sebagaimana disebutkan didalam firman ALLAH Swt diatas.... Amin...
Amin Ya Robbal alamin...

Kamis, 26 Desember 2013

Muhammad Alfatih Rahman


Melihat engkau saat bermain sendiri dengan tangan kecilmu 
tak terukur bahagia hati ayahanda...
Membuatmu tertawa bagi ayahanda ufuk timur 
dan ufuk barat ada digenggaman ayahanda...
Menyaksikan engkau menangis, hati pilu dan seakan langit runtuh...

Menantikan dengan sabar dalam memeluk engkau...
Waktu merambat pelan perlahan tubuh kecilmu tumbuh semakin besar...
Begitu juga juga harap dan cita ayahanda akan engkau...

Besarlah ananda...
Harumkan namamu dan keluargamu...
Jadilah engkau pribadi unggul berbudi pekerti luhur...
Buatlah senyum dan hiburlah hati siapa didekatmu
Hiduplah untuk kebahagian orang - orang disekitarmu...

Do'a kami selalu menyertaimu



Senin, 23 Desember 2013

Janji diri kepada yang dihati






Kau yang dihati

Telah lama diri ini dalam bahagia tanpa tahu engkau yang dihati...
Kau yang dihati
Apakah kau juga bahagia
Apakah engkau rasa apa yang diri rasa...?

Tiada tuntutan kau yang dihati lontarkan
Tiada juga keluh kesah tercurahkan
Diri malu padamu
Kau yang dihati ikhlas membahgiakan diri...
Telah banyak hari terlewati munculkan beribu tanya akan engkau  yang dihati

Bahagiakah...?
Kebahagian terus berjatuhan dan kini tumbuh subur di diri
Pengabdian dan kesetiaan tanpa batas ajaib senantasa hadir tanpa pamrih..
Bertambah banyak malu diri...
Kau yang dihati

Hari mulai siang yang dihati...
Semoga  siang ini dapat diri pergunakan sebaik diri membalas yang dihati
Sebelum senja datang
Yang dihati akan diri bahagiakan semampu diri

Janji diri kepada yang dihati....




Sabtu, 21 Desember 2013

Fabiayyi 'ala irobbikuma tukadziban..



Mendung kelabuku kini hilang
Terang benderang penggantipun serasa abadi
Kalaulah diri ingat masa itu
Malu berkerudung haru diri ini

Mudahnya pelangi datang setelah badai ini baru saja pergi
Tak terkira bahagia ditambah indahnya hadiah langit untukku
Masih saja diri enggan berfikir
Masih saja diri mudah lupakan curahan kasih yang tak terhingga ini

Terbesit secuil rasa bangga akan diri
Membutakan akan pertolongan yang Mahakuasa akan diri
Manalah ada sehelai daun jatuh tanpa izin dari-NYA
Masih saja diri enggan berfikir

Kegelisahan berganti ketenangan
Wujud kasih sayang-NYA yang tiada terkira
Segera diri sadar akan salah dan dosa
bersimpulah diri dan tiada kata lain
" Maha Suci  ALLAH dan Segala Puji Bagi ALLAH "

Tanpa-NYA apalah diri ini...

Fabiayyi 'ala irobbikuma tukadziban..
"Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan..?"

Jumat, 20 Desember 2013

Gelap dan Pelangi



Mendung datang aku mengharap hujan...
 Angin semakin kencang aku bahagia, apa yang aku harap akan segera hadir... pekik hatiku...
Lama aku menunggu... petir dan kilat menghias langit senja... angin menggiring awan...
Kilat dan gemuruh halilintar saling beriring - iringan, saling unjuk kehebatannya...

Menanti hujan dari balik jendela kamar ku termangu...
Tak ada pilihan ku hanya diam menanti...
Langit menghitam menambah besar harapku, semakin riang hatiku...
Hujan belum juga turun aku tetap menanti...

Lama kutunggu dalam gelap...
Benar tiada daya dan upaya, hanya gelisah mengharap dalam diam...
Menunggu sesuatu yang kukira datang karena mendung hitam pertanda hujan
Terlanjur diri dibuai lamunan dan harap pasti...

Tertatih namun pasti gerimis mulai menghibur aku dalam tunggu...
Jauh diatas sana perlahan candra yang tadi malu mulai menampakkan diri...
Aku gelisah, sirnalah harapanku...
Bintangpun tak segan melirik intip aku...
Terdiam diri dalam kekecewaan...

Air hujan yang kunanti tak akan pernah datang...
Dinginnya senja yang kunanti takkan hadir mengatasi panas di dada ini...
Impian akan sejuknya kalbupun menjauh...
Tahukah kau sahabat...???

 Malu diri ini yang jatuh kelembah  pesimistis yang paling dalam...
Apa yang kudapatkan jauh dari apa yang aku harapkan...
Terkesima aku akan apa yang mampu dihadirkan langit...
Ia memberiku kesejukan dan ketenangan jauh dari yang aku harap sahabat...

Pelangi hadir mengias cakrawala senja ini... 
Mata hadir menenangkan kalbuku...
Mata hadir menjadi peredam panas dada ini...
Pelangi datang setelah gelap dan gejolak melanda diri ini...

Langit punya cara sendiri untuk menjadikan kita pemenang walau dalam gelap....!!!





Ini Bukan Untukku




"ibu"
( Ini bukan untukku )

Ibu....

Tiada hari tanpa henti kau doakan aku...
Kutahu, kudengar semua dari balik dinding kamarmu...
Kau terisak memohon kepada Tuhan dalam do'amu, kau harapkan kebahagiaan dan bagusnya masadepanku...

Tangismu kau tahan wujud tabahmu menantikan ɪ̣̇tu...

Ibu...

Tak mampu airmata ini Kutahan agar Ia tak menetes...

Setiap kali kutatap engkau tersenyum, tersirat cemas dibalik garis-garis keriput diwajahmu akan kebahagiaan hari depanku...

Ibu...

Tak pernah kau tanyakan keadaanku... Keyakinan akan kebahagian hari-hariku membuat engkau tenang dan lembut penuh kasih sayang tak henti kau curahkan padaku...

Ibu...

Ingin kuungkap cerita jujur tentangku padamu... Namun akal sehatku dan rasa baktiku mencegahnya ibu...

Ibu...
Nasib sepertinya tak berpihak pada do'amu...
Mengenaskan... Keringat yang tercucur dari balik kulit anak tercintamu ini tak terbayar...
Do'a dan gelisahmu belum dilirik sang pencipta ibu...
Kepahitan dan kegelisahan akan hari esok selalu melanda setiap jengkal langkah anakmu...

Ibu...
Benarkah dunia mendzolimi dirimu yang selalu setia mendo'akan aku...

Atau kelak... Waktu itu datang nanti Ibu...
Bahwa benar kebahagian ɪ̣̇†ʊ̈̇ tiba...

Tetaplah disini ibu..
Tetaplah disampingku...
Iringi kebahagiaanku ibu...
nikmatilah hasil jeripayah sujudmu ibu...

Namun jika do'amu belum terjawab jua...
Ibu...
Hentikan ibu...
Hentikanlah semua keluh kesahmu tentangku ibu...
Berhentilah kau bersimpuh dihadapan Tuhan memohon kebahagiaanku ibu...
Karena disana keadaan tak seperti apa yang kau harapkan...
Kegigihan dan kejujuran bukanlah modal utama untuk bahagia ibu...

Disana kebejatan moral sang penguasa seakan-akan menertawakanmu ibu...
Aku tak sanggup...
Aku tak tahan melihat engkau yang begitu tulus dan lugu...
Tetap setia bersimpuh dan berharap banyak akan aku Ibu...

Berharap akan kebahagiaan dan kemuliaan anakmu ΐŋΐ...

Ibu...
Jika kelak disana bahagia tak kunjung datang...
Nyatalah ibu...

Hidup tak semudah yang kita bayangkan dan seperti apa yang kau dongengkan padaku setiap malam...
Dimana setiap sesuatu itu yang baik pasti menang...

Ibu...
Nyatalah Dunia sudah tak diporosnya lagi...
Dunia telah jauh dari garis edarnya...

Ibu... Sudahlah ibu...
Kenapa engkau tak jua berhenti berdo'a...

Baiklah ibu...
Kalaupun engkau tetap bersikeras....
Kumohon hentikan do'amu untukku...
Do'akanlah sang penguasa...
Do'akan juga agar tak bertambah anak cengeng sepertiku...

Yang hanya bisa menangis karena tak mampu membela keluarganya...
Tak mampu membahagiakanmu ibu...
Do'akanlah mereka ibu..
Do'akanlah mereka...
Mereka lebih membutuhkan do'amu lebih daripada aku...

Ibu... Kesetiaanmu menjadi dukaku...

Mungkin

 
 
Kejanggalan ini berbuah satu kata " mungkin "

Terkadang memicu segala fikiran kotor akan segala sesuatu yang kini ada dihadapanku

Tak percaya akan apa yang hadir dan terjadi dihidupku saat ini memaksaku berfikir dan mengoreksi hari belakangku

Mencoba untuk meyakininya namun tetap keraguan itu hadir ditengah tengah kemantapan akan langkah saat baru kumulai dan saat akan ku jejakkan

Mengaharapkan kebaikanpun tak jadi penenang

Langkah kian melemah mengapa harus disaat genting ini membuat kacau semua rencana dan impian

Mencoba kembali dari awal tetap rasa takut itu membayangi

Mungkin.. Ya mungkin...

Besok Punya Kita


Besar harapku bersamamu...
Melambung tinggi cita-cita bahagiaku...
Menembus dimensi ruang dan waktu..
Menjadikan aku manusia paling sempurna disisimu...

Semua halang rintang terasa mudah kulalui...
Keyakinan akan keberhasilan menghiasi hari-hariku...
Bertambah membara api semangat saat kudengar ada aku dalam do'amu....
Menjadikan aku manusia paling berhasil engkau ada dibelakangku...

Bahagia mendengar merdu canda tawamu...
Sungguh sungguh engkau mengabdikan diri kepadaku...
Semampunya kan kujaga kebahagiaan ini...
Jiwa ragaku siap berbakti akan pengabdian suci ini...
Menjadikan aku manusia paling bertanggungjawab saat ada didepanmu...

Kamis, 19 Desember 2013

Entahlah




Pagar pembatas kesunyian jiwa perlahan ambruk...

Patahan tiap pilar pilarnya berserakan menjadi puing...

Ketenangan kini berganti...

Wajah kusam menghias hari hari...

Nyata rasa angin kegalauan menampar bagunan kalbu yang tak terlindung lagi...


Resah menunggu dan mencari pilar baru...

Keraguan akan langkah kaki menjadi duri...

Keyakinan yang tak lagi utuh jadi pembatas...

Arus bimbang semakin menderas deru cobaan semakin kencang...


Langit tak berpihak akan jiwa lemah...




Rabu, 18 Desember 2013

Malas



Tiupan angin malam ini ribut bagai kicau burung...
Semilir mengusik kantukku...
Membuatnya lupa akan segera terjun kealam mimpi...
Memanjanglah lagi khayal indahku...
Mimpi dengan mata terbuka...
Ejek suara hatiku menggema didasar kalbu...
Terasing dan terdampar dipantai lamunan...
Membuatku sebentar tersenyum damai...
Dingin angin sesekali merayu...
Merayu aku untuk segera berenang dialam bawah sadarku...
Sesekali juga ia mengingatkan aku...
Mengingatkan bahwa aku belum terpejam...
Tertawa aku sadar akan kebodohanku menganggap semua khayalkukan tercapai...
Tertawa aku sadar akan rendahnya diri yang hidup dinegeri lamunan...
Terlanjur diri aman dalam dekap mimpi...
Enggan diri bangkit dan membuang semua keindahan rangkai-rangkai khayal semu indah dunia...
Malas...
Ya kemalasan Telah tercipta dan membentuk kepribadianku...
Kemalasan telah membekap erat semua sendi-sendi hidupku...
Kemalasan telah membudaya dalam kerangka berfikirku...
Hari ini masih panjang...
Esok tetap akan datang dan mimpi serta khayal dimulai kembali...
Tak terasa angin tak lagi bertiup...
Terlelapku dalam mimpi-mimpiku..

Harus


Kurobek sanubari
Saat kutahu jiwaku rapuh
Rentan hanya bertahtahkan sedih
Kureguk racun dunia
Kubiarkan semua terjadi
Kuturuti nafsu buta
Penyesalan terjadi diakhir perjalanan
Harus
Bisik hatiku mencoba maju beronta
Harus
Akal sehatku coba berbalik dan mulai memimpin kembali
Di ujung sana
terlihat sedikit cahaya harap
Cemas diri menanti perubahan akan asa
Tak mau lagi berlama dalam pilu
Tergantikah semua ini
Harus

Terlambat




Keangkuhan dan kesombongan alam sempit berfikirku,
Setinggi dan sekokoh barisan karang dipantai...
Setiap gelombang kebaikan mencoba mendobrak...
Kuhadang dengan kerdilnya diri...
Merasa hebat dan kuat dengan kesendirian...
Kegagahan itu perlahan goyah...
Merasa diri berlama waktu...
Badan kini telah tak utuh lagi...
Sang karang kuat, kropos dimakan zaman...
Kini badan telah renta akan keadaan...
Bimbang, penuh penyesalan akan sombongnya diri...
Tiada kata terlambat teriak hati situa bangka...
Takdir ada yang punya...
semua sisa waktu jadi penentu...
akankah diri bisa berbakti...
akankah diri bisa mengabdi...
akankah diri taksia - sia...
Diujung hayat menjadi bunga...
Diakhir jalan menjadi kenangan...

Selasa, 17 Desember 2013

Hati Bisu


Kubertanya wahai hati...
Kenapa kau mati...
Tak dapat lagi kurasakan sejuknya keinginan...
Tak terbesit lagi asa bahagia...
Suram...
Semua yang ada dihadapanku gelap gulita...
Tak kudengar lagi derap gegap gempita karya mudaku...
Tak kulihat lagi sinar harap kejayaan masa depanku...
Bercermin kulakukan setiap hari...
Gila...
Ya kegilaan ini merajai hari - hariku...
Buatku mundur... 
Buatku ngeri tampil dihadapan sang surya pagi...
Buatku terpinggirkan oleh hiruk-pikuk khayal dan citaku...
Karya dan derita...
Terasa tebal debu yang menutup logikaku saat ini...
Ingin kusibak tabir pemisah antara kemauan dan penderitaan...
Memaksa aku memilih sesuatu yang kutahu dengan pasti disana tiada pilihan...
Sendiri menyelusuri terowongan hampa penuh dengan kesedihan 

dan tanpa harapan penuh gelapnya tanda tanya...
Sendiri tertidur dibawah teduhnya kemalasan dan kebuntuan kreatifitas...
Terdampar dipulau tanpa harap pasti...
Takkan tergantikan lagi takkan terbarukan lagi...
Lelah berkeluh kesah wahai hati...
Dan hati kau tetap diam tak mampu menjawab...

Beritahu Aku



Terangkanlah padaku
Kesunyianmu tak membantuku lagi
Lelah otakku berfikir
Kalaulah diam adalah jawab pasti
Terangkanlah padaku
Setiap langkah bisumu tak lagi jadi petunjukku
Habislah tenaga dan dayaku menelurusi arah tujuanmu
Terangkanlah padaku
Esok atau lusakah kaukan bicara
Esok atau lusakah kau ajak aku jalan bersama
Terangkanlah padaku
Kata-kata apa harus kuucap
Terangkanlah padaku arah mana yang harus aku tempuh
Terangkanlah padaku
Diam diri ΐŋΐ karena gelapnya akal dan asaku
Terangkanlah padaku
Henti langkah ini karena gelapnya tujuan didepanku
Terangkanlah padaku
Beri arti pada hidupku yang gelap ini
Terangkan dan jangan kau redupkan lagi
Esok atau lusa ajak aku bangkit kembali
Esok atau lusa bicara dan jalan bersama
Terangkanlah karena kurindu hangat dan cahaya pedulimu
Terangkanlah...

Bangkit



Kesal akan keadaan... 
Mengejar pengakuan akan gagahnya diri... 
Terdiam, bingung, kalut,
semua arah tujuan penuh duri... 
Bagai berbisik mengabarkan aku semua arah tujuan adalah akhir semua asa... 
Termangu aku menatap jauh angan-angan bahagia masa depan... 
Tertepiskan, terbuang oleh keadaan... 
Kesalahan kecil masa muda jangan sampai jadi penghalang... 
Duka ini jangan terus abadi... 
Jalan ini harus terang..
Akhir cerita ini kujadi pemenang... 
semoga...

Keluh Kesahku


Terasing disudut malam....
Mendung menambah gelap pekatnya....
sisa cahaya gagah mega surya membekas diujung lain....
Oh... 
Sendiri menapaki puing megah dunia....
Terbesit kerinduan dihati akan gemerlip bintang dan terang apik purnama....
Buyar lamunan dikejut gemuruh halilintar....
Sadarku ini kenyataan....
Terlalu sering batin tersiksa....
Kuharap tak rasakan lagi...
Kuredam asa....
Kubuang cita tak kugubris lagi....
Kupulang dengan tangis tertahan jauh dilubuk sukma....
Selalu airmata harap menghias setiap mimpiku....
Semoga esok datang dengan cara berbeda....